Cinta, sebuah kata yang mampu
menggetarkan hati setiap manusia. Dengan alasan cinta pula, sepasang
pemuda pemudi yang sedang dimabuk cinta sampai menerjang larangan Allah
dengan berduaan, bahkan sampai berzina. Mereka lupa, bahwa di sana ada
sebuah cinta yang merupakan puncak kebahagiaan bagi seorang hamba dalam
kehidupannya.
Cintaku Hanya Untuk Allah
Para pembaca yang semoga dirahmati
Allah, kebaikan bagi seorang hamba yang paling besar ialah jika dia
mampu mengalihkan semua kekuatan cintanya kepada Allah semata. Sehingga
dia mencintai Allah dengan segenap hati, jiwa dan raganya. Cinta seperti
inilah yang menjadi tujuan kebahagiaan manusia dan puncak
kenikmatannya. Hatinya tidak merasa memiliki kenikmatan kecuali
menjadikan Allah dan Rasul-Nya sebagai yang paling dicintai daripada
yang lain, termasuk dirinya sendiri. Sehingga apabila dia disuruh
memilih antara kekufuran atau dilemparkan ke dalam api, tentu dia akan
memilih dilemparkan ke dalam api.
Seorang hamba seperti ini, tidaklah
mencintai kecuali karena Allah semata. Dengan cinta inilah dia akan
mendapatkan manisnya iman dalam hatinya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ”Ada
tiga perkara yang apabila terdapat pada diri seseorang, maka dia akan
mendapatkan manisnya iman. Yaitu, dia lebih mencintai Allah dan
Rasul-Nya daripada selain keduanya. Dia mencintai seseorang dan dia
tidak mencintainya melainkan karena Allah. Dia enggan kembali kepada
kekufuran setelah Allah menyelamatkannya dari kekufuran itu, sebagaimana
dia enggan untuk dilemparkan ke dalam neraka” (HR. Bukhari dan Muslim).
Cinta seperti ini tidak bisa
dibandingkan dengan cinta kepada manusia, siapa pun dia. Karena ini
merupakan cinta yang menuntut pelakunya untuk mendahulukan siapa yang
dicintai (Allah) daripada cintanya kepada nyawa, harta, dan
anak-anaknya, serta menuntut kesempurnaan ketundukan, kepatuhan,
pengagungan, penghambaan, dan ketaatan lahir maupun batin.
Oleh karena itu, barangsiapa yang
menyekutukan Allah dengan yang lain dalam cinta yang khusus ini, maka
dia adalah orang musyrik. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, ”Dan
di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan
selain Allah. Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah.
Adapun orang-orang yang beriman, amat sangat cinta kepada Allah” (QS. Al Baqarah : 165).
Benarkah Kita Mencintai Allah?
Jika kita bertanya kepada seseorang,
apakah dia mencintai Allah? Maka tentu banyak yang mengaku bahwa mereka
mencintai Allah. Namun, benarkah pengakuannya itu? Apakah hanya sekedar
klaim semata? Apa buktinya bahwa kita benar-benar mencintai Allah?
Jika kita mencintai Allah, maka seluruh
cinta kita akan tergantung kepada apa yang dicintai Allah dan Rasul-Nya.
Kita tentu akan mencintai Al Qur’an. Hati kita jatuh cinta kepada
makna-maknanya. Seberapa jauh cinta seseorang kepada Allah, sejauh itu
pula cintanya kepada kalam-Nya. Namun sayang, banyak kita jumpai
orang-orang yang mengaku mencintai Allah, namun lebih senang
mendengarkan nyanyian-nyanyian setan daripada mendengarkan bacaan Al
Qur’an. Mereka lebih suka menghafal lagu-lagu barat daripada menghafal
Al Qur’an. Mereka malah menghabiskan waktu untuk mendatangi
konser-konser musik daripada mendatangi majelis taklim yang mengajarkan
Al Qur’an. Inikah bukti cinta kepada Allah??!
Jika kita mencintai Allah, tentu kita
akan banyak mengingat-Nya, baik dengan hati maupun lisan kita. Oleh
karena itu, Allah memerintahkan hamba-hambaNya agar mengingat-Nya dalam
setiap keadaan, meskipun sedang berperang. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, ”Hai
orang-orang yang beriman, apabila kalian memerangi pasukan (musuh),
maka teguhkanlah hati kalian dan sebutlah (nama) Allah
sebanyak-banyaknya agar kalian beruntung” (QS. Al-Anfal : 45). Sudahkah kita melaksanakan perintah ini??!
Jika kita mencintai Allah, maka kita pun
tunduk dan patuh dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi
larangan-Nya. Ketika cinta dan ketundukan kepada Allah sudah mengakar
dalam hati, maka muncullah sikap penghambaan kepada Allah semata.
Tidaklah kita beribadah kecuali hanya untuk Allah semata. Kita pun harus
berusaha menjauhi perbuatan syirik dan membenci orang-orang yang
berbuat syirik.
Jalan untuk Mencintai Allah
Mengingat besarnya kedudukan cinta kepada Allah Ta’ala, maka Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan beberapa sebab yang dapat menghantarkan seseorang untuk benar-benar mencintai Allah Ta’ala. Sebab-sebab tersebut adalah:
Pertama, membaca Al
Qur’an dengan merenungi dan memahami maknanya. Hal ini bisa dicapai
dengan membaca kitab-kitab yang menjelaskan kandungannya.
Kedua, mendekatkan diri kepada Allah dengan mengerjakan ibadah yang sunnah, setelah mengerjakan ibadah yang wajib.
Ketiga, terus-menerus
mengingat Allah dalam setiap keadaan, dengan hati, lisan, dan amal
perbuatannya. Dia akan meraih rasa cinta kepada Allah sesuai dengan
kadar dzikirnya kepada Allah.
Keempat, lebih mendahulukan cintanya kepada Allah daripada cintanya kepada dirinya sendiri ketika dia dikuasai hawa nafsunya.
Kelima, merenungi kebesaran nama-nama dan sifat-sifat Allah.
Keenam, mengingat nikmat dan karunia Allah yang telah Allah berikan kepada kita, baik nikmat lahir maupun batin.
Ketujuh, menghadirkan
hati secara keseluruhan tatkala melakukan ketaatan kepada Allah dengan
merenungkan makna yang terkandung di dalamnya.
Kedelapan, menyendiri
dengan Allah di saat Allah turun ke dunia pada sepertiga malam yang
terakhir, beribadah, dan bermunajat kepada-Nya serta membaca kalam-Nya.
Kemudian mengakhirinya dengan istighfar dan taubat kepada-Nya.
Kesembilan, duduk di majelis yang di dalamnya terdapat perkataan yang bermanfaat.
Kesepuluh, menjauhi segala sebab yang dapat mengahalangi antara dirinya dan Allah Ta’ala. (Madaarijus Saalikiin)
Ujian Bagi yang Mengaku Mencintai Allah
Karena begitu banyaknya orang yang
mengaku mencintai Allah, maka Allah pun menguji mereka, apakah mereka
benar-benar jujur dengan pengakuannya itu. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, ”Katakanlah,’Jika
kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad), niscaya
Allah akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian’” (QS. Ali Imran : 31).
Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan
bahwa klaim mereka (orang-orang musyrik) tentang kedudukan yang tinggi
ini, tidaklah cukup dengan klaim semata. Akan tetapi, harus dilandasi
dengan kejujuran. Dan tanda kejujuran tersebut adalah mengikuti
Rasulullah dalam ucapan dan perbuatannya, dalam pokok-pokok agama dan
cabang-cabangnya, baik lahir maupun batin. Maka barangsiapa yang
mengikuti Rasulullah, hal itu menunjukkan benarnya klaim kecintaan
mereka kepada Allah. Allah pun akan mencintai mereka, mengampuni
dosa-dosa mereka, dan merahmati mereka. Dan barangsiapa yang tidak
mengikuti Rasulullah, maka berarti mereka tidaklah mencintai Allah.
Sedangkan klaim mereka itu hanyalah klaim dusta semata. (Taisir Karimir Rohmaan)
Sungguh banyak kita jumpai di zaman ini,
orang-orang yang mengaku mencintai Allah, namun beribadah dengan
cara-cara yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka memperbanyak dzikir dengan dzikir-dzikir yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada pula yang memperbanyak shalat dan puasa dengan cara yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Akibatnya, bukannya kecintaan dan pengampunan dosa dari Allah yang
mereka dapatkan, akan tetapi yang mereka dapatkan justru kecintaan setan
beserta pengikutnya dan terancam masuk neraka.
Obat Bagi yang Sedang Jatuh Cinta
Mencintai lawan jenis (wanita) merupakan sebuah kewajaran, sebagaimana Rasulullah juga demikian. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, ”Kesenanganku dijadikan di dalam shalat. Dan aku dijadikan menyenangi wanita serta wewangian” (HR. Muslim). Namun, laki-laki diciptakan dalam keadaan lemah ketika menghadapi fitnah wanita. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, ”Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah” (QS. An-Nisaa’ : 28). Ats-Tsaury rahimahullah berkata, ”Maksudnya adalah tidak sabar dalam menghadapi wanita” (Roudhotul Muhibbin).
Allah telah menciptakan obat penawar
bagi setiap penyakit dan memudahkan cara untuk mendapatkan obat itu.
Barangsiapa yang ingin berobat dengan syari’at Allah, tentu dia akan
memperoleh kesembuhan. Sedangkan barangsiapa yang mencari obat dengan
sesuatu yang dilarang syari’at, maka dia seperti mengobati suatu
penyakit dengan penyakit lain yang lebih berbahaya.
Syari’at agama Islam yang mulia ini telah menjadikan pernikahan sebagai obat bagi sepasang insan yang saling mencintai. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, ”Tidak ada yang bisa dilihat (lebih indah oleh) orang-orang yang saling mencintai seperti halnya pernikahan” (HR. Ibnu Majah dengan sanad shohih).
Demikianlah obat penawar bagi fitnah yang tengah melanda di hati
sepasang kekasih yang saling mencintai. Allah tidaklah menjadikan
pacaran dengan berduaan, peluk-pelukan, cium-ciuman, atau jalan berdua
sebagai obat. Bahkan semua ini merupakan sarana menuju zina yang telah
dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya.
0 komentar:
Posting Komentar